Kebanyakan distro Linux yang kita kenal - Ubuntu, Mint, Kali, MX Linux - sebenarnya adalah turunan dari distro lain (kebanyakan Debian). Void Linux berbeda: ia dibangun dari nol, bukan turunan siapa pun. Dua ciri khasnya paling terasa begitu sistem menyala - tidak memakai systemd sebagai pengelola layanan, dan modelnya rolling release (terus diperbarui tanpa perlu instal ulang versi baru). Panduan ini menunjukkan apa yang benar-benar terlihat saat DVD-nya dijalankan. Semua tangkapan layar di bawah adalah potret kami sendiri dari Void Linux Xfce, kernel 6.12.11_1.
Ringkasan cepat: masukkan DVD, biarkan pilihan pertama di menu boot berjalan (atau tekan Enter), tunggu proses boot berbasis teks yang berjalan cepat, dan Anda akan sampai di desktop Xfce yang sudah siap pakai - tanpa perlu masuk akun atau kata sandi. Kalau ingin memasangnya permanen, pemasangannya dilakukan lewat perkakas teks bernama void-installer yang dijalankan dari terminal, bukan lewat ikon di desktop.
Apa Itu Void Linux, dan Untuk Siapa?
Void Linux dikembangkan independen sejak 2008, dengan sistem paket sendiri (xbps) dan pengelola layanan sendiri (runit). Dua hal ini yang membedakannya dari mayoritas distro populer:
- runit, bukan systemd. Hampir semua distro besar sekarang (Ubuntu, Fedora, Debian, Arch) memakai systemd untuk menyalakan dan mengelola layanan sistem. Void memakai runit - jauh lebih sederhana, terdiri dari beberapa program kecil saja, dan boot-nya terasa ringan serta cepat karena tidak ada lapisan pengelolaan yang rumit.
- Rolling release. Tidak ada "Void Linux 12" atau "Void Linux 13" yang perlu diinstal ulang tiap beberapa tahun seperti Ubuntu. Sistem terus menerima paket versi terbaru lewat pembaruan biasa - sekali pasang, seterusnya tinggal update.
LPComp juga menjual Devuan, distro lain yang sama-sama menolak systemd. Bedanya: Devuan adalah turunan Debian yang sengaja menggantikan systemd dengan alternatif (paling umum sysvinit atau runit), jadi terasa seperti Debian pada umumnya di luar urusan pengelola layanan. Void tidak turunan siapa pun - paket, alat instalasi, sampai filosofinya semua dibangun sendiri, hasilnya sistem yang lebih ramping tapi juga lebih berbeda cara kerjanya dibanding distro besar.
Void Xfce ini cocok untuk siapa? Pemakai yang sudah terbiasa dengan Linux dan ingin sistem yang ramping, minim proses latar belakang, dan senang mengatur sistemnya sendiri. Bukan pilihan pertama untuk pemula - dokumentasi resminya lebih sedikit dibanding Ubuntu/Debian, dan kalau ada masalah, komunitas serta forum bantuannya juga jauh lebih kecil.
Layar 1: Menu Boot
Dokumentasi LPComp.
Begitu DVD dijalankan, inilah layar pertama - daftar pilihan boot ala GRUB. Yang perlu diperhatikan:
- Void Linux 6.12.11_1 x86_64 - pilihan pertama dan yang sudah tersorot, cukup tekan Enter atau tunggu hitung mundur habis.
- (RAM) - menyalin seluruh sistem live ke memori dulu sebelum jalan, membuat drive DVD tidak perlu terus berputar. Berguna kalau RAM komputer berkecukupan (4 GB ke atas).
- (graphics disabled) - pilihan cadangan kalau tampilan grafis gagal muncul karena kartu grafis tidak dikenali dengan baik.
- with speech - tiga varian dengan narasi suara, ditujukan untuk pengguna dengan gangguan penglihatan.
- Run Memtest86+ - uji kesehatan RAM, terpisah dari Linux-nya sendiri.
Untuk pemakaian biasa, cukup biarkan hitung mundur berjalan atau tekan Enter di pilihan pertama.
Layar 2: Memuat Kernel
Dokumentasi LPComp.
Sesaat setelah dipilih, muncul dua baris tambahan di bawah menu: Loading /boot/vmlinuz... ok dan Loading /boot/initrd.... Ini proses memuat kernel Linux (otak sistem) dan initrd (berkas pendukung awal boot) dari DVD ke memori. Karena dibaca dari drive optik, tahap ini terasa lebih lambat dibanding boot dari flashdisk atau SSD - normal, bukan tanda kerusakan.
Layar 3: Proses Boot runit
Dokumentasi LPComp.
Di sinilah bedanya Void paling terlihat jelas. Sebagian besar distro modern menampilkan splash screen (logo besar dengan animasi loading) saat boot, hasil kerja systemd yang mengatur banyak layanan sekaligus di latar belakang. Void justru menampilkan pesan teks apa adanya, baris demi baris:
- Baris probing perangkat keras dan proses dekompresi kernel di bagian atas - ini normal, bagian dari kernel Linux sendiri, sama di banyak distro.
- runit: bootingdanenter stage: /etc/rc/1- ini yang berbeda. Ini adalah runit, pengelola layanan pengganti systemd, mulai bekerja. Tahapannya sederhana dan berurutan, bukan dikelola oleh satu proses raksasa seperti systemd.=> Welcome to Void!dan=> Mounting pseudo-filesystems...- pesan status dari skrip boot runit, memberi tahu tahap apa yang sedang dikerjakan.
Tampilannya memang terasa "mentah" dibanding distro besar yang biasanya menyembunyikan proses ini di balik logo animasi. Bagi yang terbiasa, justru ini nilai plus - lebih mudah dilacak kalau ada langkah boot yang gagal, karena pesannya tampil apa adanya, bukan disembunyikan.
Layar 4: Desktop Xfce Siap Pakai
Dokumentasi LPComp.
Inilah tampilan akhirnya - dan tidak ada layar login sama sekali. Sesi live langsung masuk ke desktop Xfce. Beberapa hal yang terlihat:
- Panel atas kiri: menu "Applications" - pintu masuk ke semua aplikasi yang terpasang, dan jam sistem di kanan atas.
- Ikon di kiri layar - Home, File System, Trash, dan Floppy Disk, cara cepat membuka folder dan drive.
- Taskbar peluncur di bagian bawah - berisi ikon aplikasi umum: terminal, pengelola berkas, peramban web, pencarian, dan folder.
- Desktop-nya sengaja dibuat sangat sederhana - tidak ada ikon "Install" yang bisa diklik seperti kebanyakan distro lain. Untuk memasang secara permanen ke hard disk/SSD, buka terminal lalu jalankan perkakas teks
void-installersebagai root - prosesnya berbasis pertanyaan berurutan di layar teks, bukan wizard bergambar.
Perlu dicatat: Void Linux menyasar pengguna yang sudah paham dasar Linux. Dokumentasi resminya (Void Handbook) cukup lengkap secara teknis, tapi jumlah tutorial dan forum bantuan berbahasa Indonesia jauh lebih sedikit dibanding Ubuntu atau Debian. Kalau Anda baru pertama kali memakai Linux dan ingin banyak referensi/tutorial saat mentok, distro berbasis Debian/Ubuntu masih lebih ramah untuk permulaan.
Kebutuhan Perangkat Keras
- Prosesor: 64-bit (x86_64), termasuk laptop lawas sekalipun karena Void tidak membebani sistem dengan proses latar belakang berlebih
- RAM: 1 GB bisa jalan untuk sesi live ringan, tapi 2 GB ke atas jauh lebih nyaman untuk desktop Xfce sehari-hari
- Penyimpanan: sekitar 8-10 GB untuk pemasangan permanen dasar. Untuk sekadar mencoba lewat DVD, tidak perlu ruang disk sama sekali
- Kartu grafis: tidak butuh kartu khusus. Kalau tampilan bermasalah saat boot, ulangi dan pilih opsi graphics disabled di menu boot
Kesimpulan
Void Linux Xfce cocok buat yang sudah nyaman dengan Linux dan ingin sistem ramping tanpa systemd, dengan model rolling release yang tidak pernah "kadaluarsa" dan minta instal ulang. Bukan pilihan untuk yang baru belajar Linux - dokumentasi dan komunitas bantuannya lebih kecil dibanding distro besar. Mode live dari DVD membuat Anda bisa mencoba dulu tampilan dan kecepatannya sebelum memutuskan pasang permanen.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Void Linux itu turunan Debian, Ubuntu, atau Arch?
Bukan ketiganya. Void dibangun independen dari nol - paket sendiri (xbps), pengelola layanan sendiri (runit), dan repositori sendiri. Ini yang membedakannya dari mayoritas distro populer yang sebenarnya turunan Debian atau Arch.
Apa itu runit, dan kenapa Void tidak pakai systemd seperti kebanyakan distro lain?
runit adalah pengelola layanan sistem yang jauh lebih sederhana dibanding systemd - hanya beberapa program kecil, tidak mengurus banyak hal sekaligus seperti systemd (yang juga mengelola login, log, jaringan, dsb). Hasilnya boot lebih cepat dan lebih mudah dilacak kalau ada yang gagal, tapi beberapa aplikasi yang secara ketat mengasumsikan systemd bisa butuh penyesuaian tambahan.
Apakah Void Linux cocok untuk pemula yang baru pindah dari Windows?
Sebaiknya tidak jadi pilihan pertama. Void mengasumsikan penggunanya sudah paham dasar Linux - instalasinya lewat perkakas teks, bukan wizard bergambar, dan dokumentasi/forum bantuannya lebih sedikit dibanding Ubuntu atau Debian. Kalau baru mulai belajar Linux, distro berbasis Debian/Ubuntu akan jauh lebih mudah dicari solusinya saat mentok.
Bagaimana cara memasang Void secara permanen? Ada installer bergambar?
Tidak ada ikon installer di desktop. Pemasangan dilakukan lewat perkakas teks bernama void-installer yang dijalankan dari terminal sebagai root, berupa serangkaian pertanyaan di layar teks (partisi, hostname, akun, dsb) - mirip instalasi Debian versi teks, bukan wizard klik-klik bergambar.
Apa maksud rolling release? Apakah harus instal ulang tiap tahun seperti Ubuntu?
Tidak. Rolling release berarti tidak ada nomor versi besar (seperti Ubuntu 24.04, 26.04) yang mengharuskan instal ulang. Setelah dipasang sekali, sistem terus mendapat paket versi terbaru lewat perintah update biasa - tidak ada siklus "upgrade versi" yang berisiko.
Void atau Devuan - kalau sama-sama tanpa systemd, apa bedanya?
Devuan adalah Debian yang systemd-nya diganti - jadi terasa seperti Debian pada umumnya di luar urusan pengelola layanan, dan cocok kalau Anda sudah familiar dengan ekosistem Debian/Ubuntu. Void dibangun sendiri dari awal, hasilnya lebih ramping tapi juga lebih berbeda cara kerja dan paketnya dibanding distro berbasis Debian.
RAM minimal yang realistis untuk desktop Xfce-nya berapa?
Sesi live bisa jalan dengan 1 GB, tapi untuk pemakaian harian yang nyaman - membuka peramban, terminal, dan pengelola berkas sekaligus - 2 GB ke atas jauh lebih masuk akal.
Belum punya DVD-nya?
Void Linux Xfce tersedia di toko kami dalam bentuk DVD siap pakai, dikemas rapi dan siap kirim ke seluruh Indonesia: lihat DVD Void Linux Xfce. Ragu apakah laptop Anda cocok, atau bingung pilih Void vs Devuan? Sebutkan merek dan tipe laptopnya lewat chat - kami bantu cek dulu sebelum Anda beli.





